Opini

“Bule Dayak” Pulang Kampung dan Kumpulkan Ibu-Ibu Sei Gohong. Misi Besarnya Bikin Perempuan Naik Kelas

yd
“Bule Dayak” Pulang Kampung dan Kumpulkan Ibu-Ibu Sei Gohong. Misi Besarnya Bikin Perempuan Naik Kelas

Hai Kalteng - Palangka Raya - Siapa sangka, dari sebuah kafe di kampung Sei Gohong, lahir gerakan kecil yang bisa berdampak besar bagi masa depan desa.

Atmosfeer Cafe mendadak penuh oleh puluhan ibu-ibu dan perempuan dari Sei Gohong dan sekitarnya dalam kegiatan bertajuk “Pelatihan untuk Keuangan Lebih Sehat.” Namun yang menarik perhatian bukan hanya materinya, melainkan sosok di baliknya.

(Baca Juga : Wisata Sungai Batang di Sumatera Barat )

Karim BlasiWarga menyebutnya “bule Dayak”. Anak kampung Sei Gohong yang memilih kembali dan membangun desanya sendiri.

Bersama William Pranajaya, ia menggandeng Amartha dan menghadirkan Aria sebagai fasilitator literasi keuangan untuk para perempuan desa.

Namun bagi Karim, ini bukan sekadar acara pelatihan.

“Ibu saya dulu selalu bilang, kalau perempuan kampung ini kuat, maka kampung ini tidak akan pernah miskin. Hari ini saya hanya melanjutkan cita-cita beliau,” ujar Karim dengan nada tenang.

Kegiatan ini membahas hal-hal yang terdengar sederhana. Mencatat pemasukan. Mengatur pengeluaran. Menabung dengan tujuan. Tetapi dampaknya tidak sederhana.

Karim menyampaikan pesan yang membuat ruangan hening.

“Kita sering bicara UMKM, ekonomi kreatif, produk lokal. Tapi kalau ibu-ibu masih pusing bayar listrik dan belanja dapur, kapan mereka punya waktu untuk berpikir tentang usaha. Ketika kebutuhan dasar aman, barulah perempuan punya ruang untuk berinovasi,” katanya.

Para peserta terlihat aktif berdiskusi, bertanya, dan berbagi cerita. Banyak di antara mereka adalah pelaku usaha kecil rumahan yang ingin naik kelas.

William Pranajaya menambahkan bahwa gerakan ini baru permulaan.

“Sei Gohong sudah dikenal sebagai Desa Wisata Top 50 Nasional. Sekarang kita ingin dikenal karena perempuan-perempuannya yang tangguh secara ekonomi. Kalau ibu-ibu di sini kuat, ekonomi desa otomatis ikut kuat,” jelas William.

Aria dari Amartha memandu sesi interaktif yang membahas pengelolaan keuangan keluarga secara praktis dan mudah dipahami. Suasana hangat dan penuh semangat terasa sepanjang acara.

Bagi Karim, warisan bukan hanya soal tanah atau bangunan.

“Warisan adalah nilai. Dan nilai yang ingin saya bangun di Sei Gohong adalah perempuan yang berani mengelola uangnya sendiri, membangun usahanya sendiri, dan menentukan masa depan keluarganya sendiri,” ujarnya.

Dari sebuah kafe di pinggir sungai, di desa kecil Kalimantan Tengah, lahir satu pesan sederhana namun kuat. Masa depan desa tidak ditentukan oleh proyek besar. Tetapi oleh ibu-ibu yang berani belajar dan bangkit. Dan mungkin, inilah awal perubahan yang lebih besar dari yang terlihat hari itu.